Kekerasan Dalam Rumah Tangga

BAB I : PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Fenomena Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) kini tengah marak terjadi di masyarakat. Pemerintah Indonesia sejak tahun 2004 telah berusaha untuk mencegah terjadinya KDRT dengan membuat peraturan yang membahas tentang KDRT. Undang-undang ini dibuat selain untuk mencegah juga untuk menghukum pihak-pihak yang melakukan KDRT.
Namun kenyataan yang terjadi adalah peraturan tersebut tidak mengurangi jumlah KDRT yang terjadi. Seringkali insiden kekerasan terus terjadi di balik tembok rumah tanpa diketahui. Korban-korban KDRT pun enggan untuk melaporkan pada pihak berwajib. Hal ini menyebabkan semakin tidak terdeteksinya KDRT yang terjadi di masyarakat. Fenomena KDRT ini sering kali dipandang sebagai sesuatu hal yang lumrah terjadi di tengah-tengah budaya Indonesia yang cenderuang patriarki. Padahal bentuk kekerasan ini memiliki dampak negatif yang luas bagi masyarakat.
Lalu, timbul pertanyaan, bentuk perilaku apa saja yang tergolong pada KDRT ? Apa saja dampak dari KDRT ini ? Pertanyaan terakhir yang muncul adalah apa yang dapat dilakukan untuk membantu menyelesaikan masalah KDRT ini ? Maka melalui tulisan ini, penulis ingin membahas fenomena KDRT dari sudut pandang ilmu psikologi dalam rangka menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul di atas.
B. Tujuan dan Manfaat
Adapun tujuan saya menyusun makalah “Kekerasan Dalam Rumah Tangga” ini adalah untuk membahas dan menganalisis fenomena KDRT yang marak terjadi sehingga mendapat pemahaman yang lebih mendalam guna mencari solusi untuk mengatasi permasalahan ini dilihat dari sudut pandang psikologi.
BAB II : TELAAH PUSTAKA

A. DEFINISI-DEFINISI
1. Definisi Keluarga
Ketika akan membahas mengenai kekerasan dalam rumah tangga, ada baiknya kita memahami mengenai rumah tangga itu sendiri. Rumah tangga dengan kata lain keluarga. Menurut Yusuf Syamsu (2004), keluarga merupakan sekelompok orang yang terdiri dari orang tua (suami dan istri) yang memiliki keturunan (anak) dan hidup serta tinggal dalam satu rumah. Dalam keluarga terdapat dua kriteria yaitu keluarga yang sehat dan keluarga yang tidak sehat. Perbedaan antara keluarga yang sehat dan keluarga yang tidak sehat lebih dijelaskan oleh Syamsu adalah sebagai berikut :
a. Keluarga yang sehat
Keluarga yang sehat memiliki peranan yang sangat penting dalam upaya mengembangkan kepribadian anak. Perawatan orang tua yang penuh kasih sayang dan pendidikan tentang nilai-nilai kehidupan, baik agama maupun sosial budaya yang diberikannya merupakan faktor yang kondusif untuk mempersiapkan anak menjadi pribadi dan anggota masyarakat yang sehat.
Keluarga yang sehat memiliki ciri-ciri misalnya, adanya ketersedianya waktu bersama, adanya jalinan komunikasi yang baik, rasa saling menghargai dan memahami antar anggota keluarga.
b. Keluarga Tidak Sehat
Sedangkan keluarga yang tidak sehat ialah orang tua yang memberi perawatan pada anak yang kurang atau tidak adanya kasih sayang tentang nilai-nilai kehidupan baikagama maupun sosial budaya.
Keluarga yang tidak sehat juga memberikan faktor yang tidak kondusif untuk mempersiapkan anak menjadi pribadi yang kurang sehat. Dalam keluarga yang tidak sehat seringkali terjadi kekerasan dalam rumah tangga.

2. Definisi Kekerasan atau Agresi
Dalam memahami mengenai kekerasan dalam rumah tangga kita perlu memahami apa sebenarnya arti kekerasan itu sendiri. Kekerasan pada dasarnya adalah perilaku yang secara sengaja bermaksud melukai orang lain (secara fisik ataupun verbal) atau menghancurkan harta benda. Kata lain dari kekerasan ini adalah agresi. (Atkinson; hlm 121).
Kita dapat pula melihat pengertian kekerasan atau agresi ini dari pandangan Schneiders (1964). Menurut Schneiders kekerasan atau agresi adalah penggunaan kekuatan fisik dan kekuasaan, ancaman atau tindakan terhadap diri sendiri, perorangan atau sekelompok orang atau masyarakat yang mengakibatkan atau kemungkinan besar mengakibatkan memar/trauma, kematian, kerugian psikologis, kelainan perkembangan atau perampasan hak. (hlm. 331)
Sedangkan dari pandangan Feldman (1989) tindakan agresi ini biasanya dilakukan akibat adanya suatu tegangan dalam diri yang biasanya disebabkan adanya emosi marah. Terkadang kata agresi dengan kata marah memiliki hubungan yang sangat dekat sehingga sering disamakan. (hlm. 435)
Pandangan ini juga memiliki kesamaan dengan pembahasan Bem Allen bahwa tindakan agresi adalah sebuah perilaku dari marah yang dimunculkan secara terbuka pada orang lain. Menurutnya agresi adalah bentuk ekspresi terbuka dari marah. Bentuknya sering kali berupa marah terbuka yang digambarkan sebagai bentuk penyiksaan dan kehilangan kesabaran. (1990; hlm. 292)
Ditambahkan pula pandangan mengenai agresi menurut Dr. Kartini Kartono adalah kemarahan yang meluap-luap dan mengadakan penyerangan kasar, karena seseorang mengalami kegagalan. Reaksinya sangat primitif, dalam bentuk kemarahan hebat, dan emosinya meledak-ledak seperti mau menjadi gila. Ada kalanya berupa tindak tiranik, tindak sadistik, dan membunuh orang. (2003 ; 266)
Maka dengan demikian jelaslah bahwa agresi atau yang kita kenal juga sebagai kekerasan di sini adalah perilaku yang berupaya untuk melukai orang lain dimana hal ini merupakan bentuk ekspresi emosi marah yang memuncak.

3. Definisi Amarah
Agar kita lebih jelas mengetahui ekspresi marah itu sendiri, ada baiknya kita memandang arti dari marah itu sendiri. Menurut Purwanto, dkk dalam bukunya “Psikologi Marah”, sebenarnya marah merupakan emosi yang memiliki ciri-ciri aktifitas sistem saraf parasimpatik yang tinggi dan adanya perasaan tidak suka yang sangat kuat yang biasanya disebabkan adanya kesalahan, yang mungkin nyata-nyata salah atau mungkin juga tidak.
Purwanto juga mengemukakan bahwa pada saat marah ada perasaan ingin menyerang, meninju, menghancurkan atau melempar sesuatu dan biasanya timbul pikiran yang kejam. Bila hal-hal tersebut disalurkan maka terjadilah perilaku agresi.(2006;hlm13)

4. Definisi Tingkah Laku Normal dan Abnormal
Diawal kita membahas bahwa fenomenanya kita kekerasan dalam rumah tangga terkadang dianggap lumrah oleh masyarakat. Masyarakat memaklumi reaksi emosi berupa kekerasan sebagai pelampiasan rasa marahnya pada korban. Namun hal ini perlu kita cermati lebih jauh, apakah tindak kekerasan merupakan tingkah laku yang normal atau telah masuk tingkah laku abnormal.
Berdasarkan pandangan Dr. Kartini Kartono dalam bukunya berjudul “Patologi Sosial” kita dapat membedakan tingkah laku tertentu masuk pada level normal atau abnormal.
Menurutnya, tingkah laku normal adalah tingkah yang adequate (serasi atau tepat) yang bisa diterima oleh masyarakat pada umumnya. Sedangkan tingkah lakunya berupa perilaku yang sesuai dengan pola kelompok masyarakat tempat ia berada dan sesuai pola norma-norma sosial yang berlaku pada tempat dan waktu saat ia berada sehingga tercapai relasi personal dan interpersonal yang memuaskan.
Pribadi yang normal secara relatif dekat dengan integrasi jasmaniah dan rohaniah yang ideal. Kehidupan psikisnya relatif stabil sifatnya, tidak banyak memendam konflik internal (konflik batin) dan konflik dengan lingkungannya.
Sedangkan tingkah laku abnormal adalah tingkah yang inadequate (tidak serasi atau tidak tepat) yang tidak bisa diterima oleh masyarakat pada umumnya. Sedangkan tingkah lakunya berupa perilaku yang tidak sesuai dengan pola kelompok masyarakat tempat ia berada dan tidak sesuai pola norma-norma sosial yang berlaku pada tempat dan waktu saat ia berada sehingga tidak tercapai relasi personal dan interpersonal yang memuaskan.
Tingkah laku yang abnormal pada umumnya jauh dari status integrasi, baik secara internal (batin diri) maupun eksternal (lingkungan sosial). Pada umumnya mereka terpisah hidupnya dari masyarakat. Sering menderita konflik batin dan tidak jarang dihinggapi gangguan mental. (2003 ; 131-133)
Maka sebenarnya dapat kita simpulkan bahwa tingkah laku kekerasan bukanlah sesuatu hal yang normal. Masyarakat perlu memahami bahwa kekerasan tidak membawa seseorang mencapai relasi personal dan interpersonal yang baik.
5. Definisi Kekerasan Dalam Rumah Tangga
Berdasarkan beberapa pengertian di atas, kita dapat memahami kekerasan dalam lingkungan rumah tangga. Menurut UU No 23 Pasal 1 ayat 1 Tahun 2004 kita dapat mendefinisikan kekerasan dalam rumah tangga yakni setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.
Lebih jelasnya sebuah artikel menambahkan hal yang termasuk di dalam tindakan kekerasan rumah tangga adalah memberikan penderitaan baik secara fisik maupun mental di luar batas-batas tertentu terhadap orang lain yang berada di dalam satu rumah, seperti terhadap pasangan hidup, anak, atau orang tua dan tindak kekerasan tersebut dilakukan di dalam rumah. Pada dasarnya, kekerasan secara fisik termasuk dalam tindak pidana.
Kekerasan ini juga mencakup tindakan-tindakan atau ancaman-ancaman seseorang terhadap anggota keluarga lainnya atau barang-barang milik mereka. Selain itu juga mencakup menyaksikan tindakan-tindakan atau ancaman-ancaman tersebut (seperti anak-anak menyaksikan kekerasan). (http://www6.ocn.ne.jp/~heiner/index.html)
B. DATA KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA
Penulis mendapatkan beberapa data kekerasan dalam rumah tangga. Perlu menjadi catatan disini bahwa data ini hanya merupakan sebagian kecil dari kekerasan dalam rumah tangga yang dilaporkan. Banyak kasus KDRT hingga kini masih tertutup dibalik tembok rumah masing-masing yang kita tidak dapatkan informasinya. Kekerasan dalam rumah tangga yang merupakan tindak abnormal ini hingga kini masih dianggap sebagai hal yang perlu ditutupi dan dimaklumi.
1) Jumlah Kasus Kekerasan yang terjadi dalam Rumah Tangga / Domestik di LBH APIK JAKARTA Tahun 1998 – 2002
Jenis Kasus 1998 1999 2000 2001 2002
Kekerasan Fisik 33 52 69 82 86
Kekerasan Psikis 119 122 174 76 250
Kekerasan Ekonomi 58 58 85 16 135
Kekerasan Seksual 3 15 1 0 7
Perkosaan 1 10 0 0 0
Pelecehan Seksual 2 5 1 0 0
Ingkar Janji 0 0 3 14 5
Dating Violence 0 0 0 0 7
Penganiayaan Anak 0 0 0 0 1
(Sumber : http://www.lbh-apik.or.id)
2) Penelitian Organisasi Kesehatan Dunia menyebutkan, 52 persen perempuan di dunia mengalami Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). KDRT bisa berupa tindakan kekerasan fisik, seksual, psikologis atau kekerasan emosi, juga kekerasan ekonomi, seperti tidak menafkahi istri dan anak. (www.kompascybermedia.com)
3) Ketua Komisi Nasional Perempuan, Kamala Chandra Kirana, mengatakan bahwa terjadi peningkatan kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga yang terjadi sepanjang 2005. Menurut Kamala, KDRT meningkat sebesar 82 persen dari tahun 2004. Ia menjelaskan, tindakan kekerasan terhadap perempuan tak mengenal umur, pekerjaan, dan jenis pendidikan. Korban kekerasan berusia 25 hingga 40 tahun dengan jumlah kasus 4.506. Pendidikan tertinggi SLTA dengan 2.649 kasus. Sedangkan yang paling banyak menimpa ibu rumah tangga yakni 9.298 kasus atau 45,6 persen dari seluruh kasus. (www.kowani.or.id)
4) Berdasarkan data Komnas Perempuan, selama 2005 terjadi 20.391 kasus kekerasan terhadap perempuan, yang ditangani oleh 215 lembaga di provinsi. Angka itu menunjukan peningkatan 45 persen, dibandingkan 2004 yaitu 14.020 kasus. Sebanyak 82 persen di antaranya adalah kekerasan dalam rumah tangga. (www.kompas.com)
5) Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH APIK) dalam rilisnya kemarin, menyebutkan ada 83 kasus kekerasan dalam rumah tangga selama empat bulan pertama 2007 di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Sebagian besar kasus itu merupakan kekerasan suami terhadap istri. LBH APIK mancatat para korban perempuan itu antara lain mengalami kekerasan fisik, psikis, ekonomi (tidak dinafkahi, diperas), seksual, atau bahkan kombinasi di antaranya. Perkara tersebut berakhir antara lain dengan perceraian (30), pidana (9), mediasi (6), dan konsultasi pernikahan (38). (www.tempointeraktif.com)
6) Menurut data statistik, berdasarkan informasi dari Persatuan Nation Wide Profesional, bahwa jumlah penganiayaan anak telah bertambah dua kali lipat dari 1,4 juta menjadi 2,8 juta antara tahun 1986 dan 1993. Laporan terakhir pada tahun 1993, kenaikan jumlah penganiayaan tersebut terus bertambah sebanyak 1 juta tiap tahunnya. Penganiayaan pada anak telah meningkatkan jumlah kematian pada anak. (Papalia: 1998)
C. BENTUK TINDAKAN KEKERASAN
Kekerasan dalam rumah tangga dapat terjadi dalam banyak bentuk. Bentuk-bentuk KDRT telah diatur dalam UU No. 23 Tahun 2004. Berdasarkan UU bentuk kekerasan rumah tangga bisa terjadi dalam bentuk kekerasan fisik, kekerasan psikologis/emosional, kekerasan seksual, dan kekerasan ekonomi. Adapun penjelasannya bentuk kekerasan adalah sebagai berikut :
1. Tindak kekerasan fisik adalah tindakan yang bertujuan melukai, menyiksa atau menganiaya orang lain. Tindakan tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan anggota tubuh pelaku (tangan, kaki) atau dengan alat-alat lainnya. Secara fisik, kekerasan dalam rumah tangga mencakup: menampar, memukul, menjambak rambut, menendang, menyundut dengan rokok, atau melukai dengan senjata.
2. Tindak kekerasan non-fisik (psikologis/jiwa) adalah tindakan yang bertujuan mengganggu atau menekan emosi serta merendahkan citra atau kepercayaan diri korban. Tindakan yang dilakukan biasanya melalui kata-kata maupun melalui perbuatan yang tidak disukai/dikehendaki korbannya.
Secara kejiwaan, korban menjadi tidak berani mengungkapkan pendapat, menjadi penurut, menjadi selalu bergantung pada suami atau orang lain dalam segala hal (termasuk keuangan). Akibatnya korban menjadi sasaran dan selalu dalam keadaan tertekan atau bahkan takut.
Secara psikologis, kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga termasuk penghinaan, komentar-komentar yang merendahkan, melarang istri mengunjungi saudara maupun teman-temannya, mengancam akan dikembalikan ke rumah orang tuanya. Bentuk kekerasan ini sering kali tidak disadari oleh masyarakat sebagai bentuk kekerasan.
3. Tindak kekerasan secara seksual, kekerasan dapat terjadi dalam bentuk pemaksaan dan penuntutan hubungan seksual. Terkadang dalam kasus-kasus ditemukan pula bentuk pemaksaan hubungan seksual dengan orang lain untuk tujuan komersil.
4. Tindak kekerasan secara ekonomi, kekerasan terjadi berupa tidak memberi nafkah istri, melarang istri bekerja atau membiarkan istri bekerja untuk dieksploitasi.

Selain itu pembagian bentuk-bentuk kekerasan yang merupakan kejahatan dapat dikelompokkan ke dalam cara-cara kekerasan, yakni :
 Menggunakan alat-alat bantu, seperti senjata, senapan, alat jerat, bahan kimia yang beracun, dan sebagainya untuk melukai korban.
 Tanpa alat bantu dengan hanya menggunakan kekuatan fisik semata, misalnya memukul, tipu daya, dsb.
 Residivis, yaitu penjahat-penjahat yang berulang kali melakukan tindak kejahatan atau kekerasan dalam bentuk berbagai macam.
 Pelaku berdarah dingin, yang melakukan tindak kekerasan dengan pertimbangan dan perencanaan yang matang tanpa ada rasa bersalah.
 Pelaku situasional yang melakukan kejahatan dengan menggunakan kesempatan-kesempatan kebetulan.
 Pelaku karena dorongan-dorongan impuls-impuls yang timbul seketika. Misalnya berupa perbuatan koetsluiting, yang lepas dari pertimbangan akal dan lolos dari tapisan hati nurani.
 Pelaku kebetulan, misalnya karena lupa diri, tidak disengaja, lalai, ceroboh, acuh tak acuh, sembrono, dll. (Kartono, 2003 ; 130)
Sedangkan bentuk tindakan kekerasan dalam rumah tangga dapat didasarkan pula pada korban tindak kekerasan yang dibagi menjadi dua bentuk, yaitu :
1. Kekerasan pada pasangan
Kekerasan pada pasangan adalah tindakan yang berakibat kesengsaraan atau penderitaan-penderitaan pada pasangan secara fisik, seksual atau psikologis, termasuk ancaman tindakan tertentu, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang baik yang terjadi di depan umum atau dalam lingkungan kehidupan pribadi.
Seringkali kekerasan pada pasangan biasanya lebih sering terjadi pada pasangan berjenis kelamin perempuan, meskipun tidak menutup kemungkinan korban kekerasan berjenis kelamin laki-laki. Kekerasan pada perempuan terjadi karena adanya ketimpangan atau ketidakadilan gender.
Ketimpangan gender adalah perbedaan peran dan hak perempuan dan laki-laki di masyarakat yang menempatkan perempuan dalam status lebih rendah dari laki-laki. “Hak istimewa” yang dimiliki laki-laki ini seolah-olah menjadikan perempuan sebagai “barang” milik laki-laki yang berhak untuk diperlakukan semena-mena, termasuk dengan cara kekerasan.
Para korban sebenarnya memiliki hak untuk memperoleh perlindungan hak asasi manusia. Hak ini telah dilindungi pemerintah dalam UU No 23 Tahun 2004. Berdasarkan UU, Kekerasan terhadap korban, dalam hal ini seringkali perempuan, dapat berupa pelanggaran hak-hak berikut :
 Hak atas kehidupan
 Hak atas persamaan
 Hak atas kemerdekaan dan keamanan pribadi
 Hak atas perlindungan yang sama di muka umum
 Hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan fisik maupun mental yang terbaik
 Hak atas pekerjaan yang layak dan kondisi kerja yang baik
 Hak untuk pendidikan lanjut
 Hak untuk tidak mengalami penganiayaan atau bentuk kekejaman lain, perlakuan atau penyiksaan secara tidak manusiawi yang sewenang-wenang.

2. Kekerasan pada anak
Bentuk kekerasan dalam rumah tangga kedua dilihat dari korban adalah kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi pada anak. Kekerasan pada anak adalah tindakan yang berakibat kesengsaraan atau penderitaan-penderitaan pada anak secara fisik, seksual atau psikologis, termasuk ancaman tindakan tertentu, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang baik yang terjadi di depan umum atau dalam lingkungan kehidupan pribadi.
Berdasarkan tinjauan penulis pada kasus kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan pada anak terjadi dalam dua bentuk, yakni :
1. Bentuk penganiayaan langsung pada anak. Hal ini biasanya berupa kekerasan yang langsung menimpa diri anak.
2. Kekerasan secara tidak langsung berupa kekerasan yang dilakukan oleh salah satu orang tuanya pada pasangannya dimana anak menyaksikan hal tersebut terus menerus. Hal ini yang menyebabkan traumatis berkelanjutan pada anak.
Bentuk kekerasan dapat berupa penganiayaan terhadap anak (child abuse) dimana hal ini termasuk salah satu bentuk kekerasan dalam rumah tangga. Penganiayaan ini bisa dalam beberapa bentuk, diantaranya :
 Penganiayaan emosi, misalnya pada kata-kata atau tindakan non-fisik yang menyebabkan kerusakan pada tingkah laku, kognitif, emosi atau fungsi psikis pada anak. Tindakan yang muncul misalnya tindakan meneror, orang tua memandang rendah anak dalam hal intelegensi atau tingkah laku yang ditampilkan oleh anak dapat pula berupa pandangan bahwa anak adalah sesuatu yang konyol atau memuakkan.
 Penolakan terhadap anak juga termasuk penganiayaan pada anak, misalnya tidak memberi perhatian pada anak dalam hal makanan, pakaian dan atau pandangan-pandangan ke depan.
 Isolasi juga dapat termasuk dalam bentuk kekerasan. Orang tua membatasi ruang gerak anak baik secara fisik, psikis dan sosial. Anak dilarang berkenalan dengan orang lain dan membina persahabatan.
 Eksploitasi pada anak juga dapat merupakan penanganiayaan bila anak dipaksa melakukan kerja dimana hal ini tidak sesuai keinginan dan tugas perkembangan anak itu sendiri. (Papalia; 1998)
Padahal peran orang tua yang seharusnya terhadap anak adalah sebagai berikut :
1. Memenuhi kebutuhan anak, yakni kebutuhan fisik maupun psikis. Kebutuhan fisik diantaranya memenuhi makan dan minum. Sedangkan kebutuhan psikis diantaranya memenuhi kebutuhan pendidikan, kasih sayang, dsb.
2. Memotivasi tingkah laku anak, yakni memberikan reward dan punishment sehingga terbentuk tingkah laku dan pribadi anak yang matang.
3. Memberikan model tingkah laku yang baik, yakni memberikan tingkah laku contoh. Apabila dipenuhi kekerasan, anak belajar kekerasan yang mempengaruhi tingkah laku anak di masa depan. (World Book, 1995 ; C-408)

C. PENYEBAB TINDAK KEKERASAN
Penyebab kekerasan dalam rumah tangga merupakan hal yang sangat kompleks sifatnya. Tiap kasus kekerasan memiliki penyebab yang berbeda-beda. Namun biasanya kekerasan dalam rumah tangga dihasilkan dari suatu penyesuaian perkawinan yang buruk pada pasangan di dalam rumah tangga tersebut.
Suasana perkawinan yang muncul dari penyesuaian yang tidak sehat biasanya situasi rumah tangga menjadi tidak nyaman dan menyebabkan individu dalam perkawinan mengalami masalah dan memendam rasa marah. Seperti diawal dibahas, kekerasan dalam rumah tangga menjadi pelampiasan rasa marah yang dirasakan pelaku kekerasan.
Kondisi yang menyumbang kesulitan dalam penyesuaian perkawinan dapat berupa banyak hal. Menurut Hurlock, hal-hal yang memungkinkan penyesuaian perkawinan buruk sehingga memicu kekerasan dalam rumah tangga adalah sebagai berikut :
1. Persiapan yang terbatas untuk perkawinan. Hal ini juga termasuk kurangnya info tentang seks, keterampilan mengurus anak, manajemen keuangan, dsb.
2. Peran dalam perkawinan. Berkurangnya peran masing-masing suami dan istri akan menjadi salah satu pemicu timbulnya kekerasan. Misalnya suami yang tidak bekerja.
3. Kurangnya pengalaman ketika menikah di usia muda.
4. Konsep yang tidak realistis tentang perkawinan. Tidak adanya konsep yang realistis tentang makna perkawinan, pekerjaan, deprivasi, pembelanjaan uang, pola hidup.
5. Perkawinan campur yang dilatarbelakangi oleh budaya yang berbeda sehingga mudah timbul ketidakcocokan dan keributan rumah tangga.
6. Pacaran yang terlalu singkat menyebabkan kurangnya waktu dalam memecahkan masalah penyesuaian sosial.
7. Konsep perkawinan yang terlalu romantis dan kurang realistis.
8. Kurangnya identitas yang disebabkan oleh pasangan yang lebih sukses, sehingga ia kehilangan identitas diri sebagai individu yang dijunjung dan dinilai tinggi sebelum perkawinan. (1980; 289)
Penyebab tindak kekerasan juga dapat diakibatkan oleh faktor individu pelaku sendiri. Adanya perasaan frustrasi atau perasaan marah pada pelaku tindak kekerasan mendorong dirinya untuk melakukan tindak kekerasan dalam rumah tangga.
Penyebab munculnya perasaan marah dapat disebabkan oleh faktor eksternal dan internal. Dari sisi eksternal yakni terjadi saat adanya halangan di lingkungan yang menghambat diri pelaku dalam mencapai pemuasan suatu kebutuhan dirinya. Sedangkan dari sisi internal yakni kecenderungan kepribadian individu yang sulit memecahkan masalah secara matang ketika pemenuhan kebutuhannya terhambat. Jalan keluar yang diambil individu ini adalah kekerasan. (Surya, 2003; 101-107)
Lebih lanjut kita dapat menganalisis penyebab terjadinya kekerasan dalam rumah tangga termasuk faktor-faktor penyebab dan kondisi yang menyebabkan kekerasan dalam rumah tangga terpelihara. Analisis ini didasarkan pada artikel Jacinta F Rini mengenai ”Tipe Pelaku Abuser” dimana dijelaskan penyebab kekerasan dalam rumah tangga sebagai berikut :
a) Faktor masyarakat :
• Kemiskinan adalah faktor yang paling mempengaruhi timbulnya kekerasan dalam rumah tangga. Hal ini disebabkan karena kemiskinan dapat menimbulkan stress sehingga peluang untuk menyalurkannya adalah melakukan tindakan agresi dalam rumah tangga.
• Urbanisasi yang terjadi disertainya kesenjangan pendapatan diantara penduduk kota.
• Masyarakat atau keluarga yang ketergantungan obat seringkali kehilangan kesadaran akan tindakannya. Pada beberapa kasus ketergantungan obat-obat tertentu dapat meningkatkan kerja sistem syaraf yang terkadang mengarah pada tingkah laku agresi.
• Lingkungan dengan frekuensi kekerasan dan kriminalitas tinggi.

b) Faktor keluarga :
• Adanya anggota keluarga yang sakit yang membutuhkan bantuan terus menerus seperti misalnya anak dengan kelainan mental sehingga orang tua atau yang mengurus menjadi stress dan menimbulkan tingkah laku agresi.
• Kehidupan keluarga yang kacau tidak saling mencintai dan menghargai, serta tidak menghargai peran wanita.
• Kurang ada keakraban dan hubungan jaringan sosial pada keluarga.
• Sifat kehidupan keluarga inti dimana salah satu anggota keluarga inti memiliki kebiasaan dalam tindak kekerasan meskipun hal tersebut bukan merupakan kebiasaan pada keluarga besarnya.

c) Faktor Individu :
• Korban biasanya dianggap lemah, seperti wanita yang single, bercerai atau masih berumur 17- 28 tahun atau yang sedang hamil.
• Ketergantungan obat, alkohol atau riwayat ketergantungan kedua zat itu
• Mempunyai pasangan dengan sifat memiliki dan cemburu berlebihan.
Untuk lebih mendalam lagi, kita dapat melihat analisis mengenai ciri-ciri atau tipe kepribadian individu yang merupakan pelaku dan juga ciri-ciri atau tipe kepribadian yang biasanya menjadi korban.
Karakteristik kepribadian individu yang umumnya dimiliki oleh pasangan abuser dalam hal ini korban adalah sebagai berikut :
• Adanya kebutuhan yang kronis akan cinta dan perhatian.
• Mempunyai harga diri yang rendah dan persepsi yang negatif terhadap diri sendiri.
• Adanya ketergantungan terhadap sesuatu, misalnya, drugs, alkohol, dsb.
• Mempunyai masa lalu yang traumatis karena pernah mengalami penyiksaan emosional, fisik maupun seksual.
• Mengalami ketergantungan serius terhadap cinta dan perhatian, atau mempunyai gangguan kepribadian dependent sehingga tetap setia pada pasangannya yang suka menyiksa.
• Ingin selalu merasa dibutuhkan, sehingga marah jika terisolir.
• Ingin selalu menjalin ikatan dengan orang lain sebagai sarana memvalidasi identitas dirinya.
• Ada kemungkinan mempunyai sejarah orang tua yang alkoholik, abusive atau pun jenis ketergantungan yang lain.
• Merasa diri sangat berharga dari sikap menjaga, memelihara dan mengayomi pasangannya yang abusive.
• Tidak mampu membangun batasan-batasan antara dirinya sendiri dengan orang lain.
• Sulit mengekspresikan kemarahan, dan cenderung malah menyimpannya atau mengeluarkannya dalam sikap dan perilaku tidak produktif.
• Punya keyakinan yang klise, bahwa dengan usaha lebih keras saja pasti bisa mengubah keadaan.
• Selalu berupaya seolah ingin meninggalkan pasangannya.
• Mengalami depresi yang cukup serius, memiliki keinginan untuk bunuh diri dan membutuhkan penanganan.
• Jika sedang berkonflik, tidak pernah dituntaskan namun malah pergi meninggalkan pasangan, untuk kemudian kembali lagi; pola itu terus menerus berulang.
Sedangkan karakteristik kepribadian individu yang umumnya dimiliki oleh abuser dalam hal ini pelaku kekerasan adalah sebagai berikut :
• Sangat temperamental, atau sulit mengendalikan temperamen, kecemburuan yang tidak wajar terhadap pasangan dan kecanduan cinta.
• Mempunyai ketakutan yang berlebihan jika dirinya ditinggalkan oleh pasangan.
• Mempunyai masa lalu yang traumatis, baik itu mengalami penyiksaan seksual, emosional, fisik, orang tua alkoholik, atau pun sebagai anak yang ditolak.
• Perilakunya sembarangan dan tidak perhitungan, seperti ngebut, mabuk-mabukan, melakukan aktivitas seksual yang abnormal dan membahayakan.
• Suka mengisolasi diri namun menampilkan temperamen yang antisosial dan mempunyai harapan yang tidak realistik.
• Tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya meskipun merugikan orang lain.
• Menunjukkan sikap kejam terhadap anak atau pun binatang.
• Sering mengancam untuk melakukan tindakan yang jahat.
• Menyimpan rasa malu dan harga diri yang rendah.
• Mengalami gangguan kepribadian dependent-aggresive.
• Tidak mampu menghargai dan menjaga batasan-batasan interpersonal yang dibangun antara dirinya dengan orang lain atau pasangannya.
• Ada tanda-tanda ketergantung obat dan alkohol.
• Adanya dorongan untuk menguasai dan mengendalikan orang lain, terutama pasangannya, sebagai kompensasi dari rasa rendah diri dan rasa tidak aman.
• Ada tanda-tanda mengalami gangguan kepribadian bipolar, atau borderline.
• Adanya peningkatan perilaku penyiksaan jika pasangan meninggalkannya. Hal ini dilakukan agar korban kembali lagi padanya. (www.e-psikologi.com)
Sedangkan penyebab penganiayaan pada anak adalah keluarga yang bermasalah, misalnya orang tua yang alkoholik atau yang bertingkah laku anti sosial. Orang tua yang menganiaya berperilaku mengabaikan perkembangan anak normal, mereka mengharapkan anak tidak menangis atau tetap bersih dan bersikap tidak realistis di usia anak yang sebenarnya.
Kekerasan pada anak bisa terjadi karena disebabkan keluarga yang tidak sehat. Karakteristik orang tua yang punya hubungan tidak sehat dengan anak :
 Tidak membiarkan anak marah kepada orang tua.
 Percaya afeksi dan kelembutan dapat berbahaya dan melemahkan anak.
 Sering mengejek dan mempermainkan anak, sehingga menurunkan harga diri anak.
 Tidak memperbolehkan anak untuk bertanya.
 Berpikir anak untuk tidak menangis.
 Mengajarkan anak untuk selalu mengontrol perasaannya.
 Percaya anak seharusnya tidak didengar dan diperhatikan.
 Percaya mengkritik anak habis-habisan dapat membuat anak lebih baik, sehingga selalu mengkritik dan menolak ide anak.
 Mengatur tugas anak dan menekan anak dalam segala hal.
 Tidak sabar pada anak dan selalu menolak anak tanpa memberikan solusi. (Papalia, 1998; 246-247)

D. DAMPAK KEKERASAN

1. Modelling tindak kekerasan bagi anak
Berdasarkan paparan Dr. Kartini Kartono (2003), keluarga merupakan lingkungan yang memberikan pengaruh yang menentukan kepada pembentukan watak dan kepribadian anak. Hal ini juga didukung oleh teori-teori psikologi perkembangan yang ada.
Keluarga sebagai unit sosial terkecil memberikan stempel dan fondasi dasar bagi perkembangan anak. Maka tingkah laku neurotis, psikotik atau kriminal dari orang tua atau salah seseorang anggota keluarga bisa memberikan dampak besar, khususnya pada anak-anak. Anak seorang pencuri biasanya juga akan menjadi pencuri, maka anak seorang yang melakukan tindak kekerasan juga dapat mengulangi perbuatan tersebut.
Hal ini disebabkan karena kebiasan tindakan kekerasan dan pola tingkah laku harian yang neurotis akan mengkondisionir tingkah laku dan sikap hidup para anggota keluarga yang lainnya. Jadi ada proses pengkondisian.
Anak yang hidup di tengah kekerasan rumah tangga, baik hal itu menimpa dirinya atau salah seorang anggota keluarganya tentu saja terkondisikan untuk belajar bahwa kekerasan merupakan sesuatu hal yang biasa, dan mungkin saja belajar bahwa kekerasan adalah jawaban dari setiap permasalahan. Ia melihat orang tuanya jika bermasalah melampiaskannya dalam bentuk kekerasan. Hal ini yang akan dipelajari oleh anak dan kekerasan akan menjadi watak anak yang akan dibawa terus di masa depannya.

2. Depresi, Konflik Batin dan Gangguan Mental bagi Korban
Berdasarkan pandangan bahwa kekerasan merupakan tingkah laku abnormal, maka depresi merupakan salah satu dampak yang diakibatkan oleh kekerasan dalam rumah tangga.
Depresi sendiri merupakan gangguan mood yang ditandai oleh kesedihan dan kekesalan, penurunan motivasi dan gairah hidup disertai pemikiran yang negatif (misalnya perasaan tidak berdaya tidak adekuat dan harga diri rendah), dan dan gejala fisik seperti gangguan tidur, penurunan nafsu makan dan kelelahan. Apabila depresi terus berlanjut dapat mengarah ada tingkah laku menganiaya diri dan percobaan bunuh diri. (Atkinson, 2004; 684).
Pola neurotik atau patologis penuh konflik batin dari ayah atau ibu, secara langsung atau tidak langsung mencetak pola yang sama pada para anggota keluarga lainnya. Dengan begitu tingkah laku orang tua itu mudah sekali menular kepada anak-anak, khususnya mudah dicontoh oleh anak-anak yang belum stabil jiwanya.
Dr. Kartini Kartono juga memandang bahwa situasi keluarga dengan orang tua yang memiliki temperamen meledak-ledak, sombong, bertindak sewenang-wenang, melakukan tindakan kekerasan baik kepada pasangan maupun kepada anak, tidak hanya mentransmisi watak yang buruk kepada anak, akan tetapi juga menimbulkan iklim demoralisasi psikis kepada lingkungannya. Hal ini dapat memunculkan banyak konflik batin pada diri anak.
Kelompok anak-anak dan remaja yang melakukan tindak kriminal, kenakalan dan mengikuti gank berandal biasanya terdiri dari anak-anak dan remaja yang tengah kebingungan dan banyak memiliki konflik batin yang tidak dapat dipecahkan. Biasanya mereka juga merupakan anak korban tindak kekerasan yang merasa ditolak oleh orang tua mereka.
Hal ini juga didukung oleh reaksi-kompensatoris dari perasaan-perasaan inferior dalam usaha mendapat pengakuan. Jika semua ini berlangsung terlalu lama, dan tidak dapat diselesaikan dengan baik, maka biasanya peristiwa demikian itu menjadi penyebab utama dari macam-macam gangguan mental yang parah dan jamak. (2003 ; 256-257)
Selain itu anak yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga memiliki beberapa ciri perkembangan kepribadian yang buruk dimana hal ini muncul akibat dari pengkondisian rumah yang penuh kekerasan, seperti :
 Lemahnya ego defence, sehingga mudah labil jika mengalami stress.
 Ketergantungan pada orang tua yang menyebabkan mudah menyerah.
 Tidak bisa menjalin relasi sosial yang sehat.
 Selalu merasa cemas, sensitif dan selalu mempertahankan dirinya serta tegang.
 Selalu mengasihani diri, merasa dikhianati dan merasa diri korban.
 Selalu mencari penerimaan dari orang lain.
 Merasa kurang dalam makna hidup.
 Tidak mempercayai orang secara umum.
 Selalu negativistik, selalu ingin menjatuhkan orang lain dan memanipulasi orang lain. (Papalia, 1998; 246-247)
Dampak kekerasan terhadap anak adalah luka yang mendalam dan sukar dipulihkan secara psikologis, pengalaman tidak menyenangkan yang menyebabkan kerusakan psikis pada anak dimana menurut Hurlock (1980) dapat berakibat seperti di bawah ini :
1. Bingung mengenai hal yang terjadi pada dirinya dan apa yang perlu dilakukan.
2. Rasa salah, anak merasa peristiwa yang terjadi karena kesalahan mereka.
3. Rasa takut, anak akan mengalami kerusakan pada tubuh, takut keluarga berantakan (akibat kejadian yang dialami), takut ditolak orang tua atau oleh keluarga yang anaknya tidak mengalami kekerasan, takut pada pelaku.
4. Marah, anak akan merasa marah tanpa bisa mengekspresikannya; marah pada pelaku, pada diri sendiri karena tidak bisa menghentikan tindakan yang dialami, marah pada orang dewasa lain yang melihat kejadian tapi tidak berusaha menolong atau mencegah.
5. Hilang kepercayaaan, anak menjadi hilang kepercayaan pada orang tua karena tidak melindungi.
Dampak kekerasan dalam rumah tangga akan sangat berbekas bagi seorang anak dikarenakan :
 Anak memiliki sumber daya coping yang terbatas dan relatif tidak perdaya dalam kondisi terancam.
 Respon yang terkondisikan akibat pengalaman traumatik dapat digeneralisasikan ke dalam situasi lain.
 Situasi traumatik cenderung berbekas dalam bentuk conditioning yang kuat dan otomatis yang relatif sukar diubah dengan cognitive appraisal. Sekali suatu situasi membekas secara mendalam di struktur kognitif-afektif akan membuat individu tidak lagi dapat menilai ancaman secara objektif, walau sumber dayanya sudah berkembang bersama usia. (Prakoso, 1997; 22)

3. Gangguan akibat Trauma
Kebanyakan orang bila mengalami pengalaman yang mengerikan (traumatis), seperti penyerangan seksual, kekerasan, kecelakaan, dan sebagainya akan menunjukkan reaksi psikologis. Simptom-simptom yang ditunjukkan akan ditentukan oleh kepribadiannya. Kekerasan dalam rumah tangga dapat menjadi pengalaman yang traumatik bagi korban yang menderita.
Berdasarkan paparan Gerald Corey (2005) mengenai trauma didapat bahwa gangguan akibat trauma besar. Akibat trauma dapat berupa Post traumatic syndrome disorders (PTSD) merupakan reaksi korban dalam suatu malapetaka, dalam hal ini kekerasan dalam rumah tangga yang menyebabkan dirinya trauma. Sindrom ini dapat digambarkan melalui reaksi saat pengalaman traumatik. Reaksi pertama setelah kejadian yang dapat disebut sebagai Acute Posttraumatic Stress. Sedangkan reaksi dalam jangka panjang dapat disebut sebagai reaksi Long Lasting.
Reaksi Acute Posttraumatic Stress meliputi 3 tahap :
1. Tahap Shock : Hal ini terjadi ketika korban terpaku/terkejut segera setelah ia mendapat perlakuan kekerasan.
2. Tahap Suggestible : Hal ini terjadi beberapa saat setelah kejadian dimana korban menjadi tiba-tiba berubah menjadi pasif, mudah dipengaruhi dan menuruti orang lain.
3. Tahap Recovery : Ketika korban menjadi tegang dan menunjukkan kecemasan yang secara perlahan dalam mencapai kembali keseimbangan. Gangguan stres pasca trauma muncul pada taraf ini.
Sedangkan reaksi Long Lasting biasanya berjalan lama setelah kejadian. Individu menjadi murung terus menerus. Hal inilah yang dikatakan seseorang mengalami depresi. Apabila depresi tidak segera ditangani maka akibatnya dapat fatal.
Traumatis yang berkepanjangan ini akan juga menyebabkan terhambatnya perkembangan pada korban, terutama anak-anak. Anak yang mengalami traumatis yang berkepanjangan dapat terganggu pada perkembangan emosi, perkembangan sosial, perkembangan konsep diri, perkembangan moral, perkembangan identitas seksual, perkembangan hubungan dengan keluarga, serta perkembangan kepribadian.

4. Cacat badan dan Kematian
Sebagai tambahan, analisis dari penulis berdasarkan kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga yang parah, dampak dari kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan oleh pasangan atau orang tua jika dilakukan secara fisik yang berlebihan dapat menimbulkan cacat badan bagi korban. Misalnya rusak atau kehilangan anggota tubuh. Mereka juga dapat menderita kerusakan indera, seperti indera penglihatan atau pendengaran.
Dalam kasus-kasus parah yang tidak ditangani dengan baik, korban dapat meninggal akibat bunuh diri. Korban nekat menghabisi nyawanya sendiri akibat tidak tahan mengalami kekerasan, putus asa, sehingga depresi dan berakhir bunuh diri.
Terkadang kekerasan dalam rumah tangga dapat menimbulkan akibat yang lebih parah. Jika pelaku hilang akal sehat dan kesadarannya, pelaku dapat menganiaya korban hingga tewas.

E. UU ANTI KEKERASAN

Pemerintah Indonesia telah berupaya dalam mengatasi masalah Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT), dalam hal ini membuat suatu peraturan pemerintah yang dituangkan dalam Undang-Undang Pemberantasan KDRT tahun 2004 yang menyebutkan sanksi pada pelaku jika terbukti bersalah dengan minimal hukuman 4 bulan penjara hingga 15 tahun penjara dengan denda minimal 5 juta hingga 500 juta rupiah, tergantung pada berat tidaknya akibat kekerasan pada korban. (Pasal 44-49 UU Nomor 23 Tahun 2004)
Pemerintah juga telah mensyahkan Peraturan Penyelenggaraan Pemulihan Korban KDRT dimana penyelenggaraan pemulihan meliputi pelayanan kesehatan, pendampingan korban, konseling, bimbingan rohani, dan resosialisasi.(Pasal 4 UU No 4 Tahun 2006)
Namun dalam prakteknya, para korban seringkali enggan untuk melaporkan kekerasan dalam rumah tangga yang menimpa pada dirinya. Berdasarkan artikel Kekerasan Dalam Rumah Tangga di internet mengatakan dalam konteks budaya patriarkhi, para perempuan korban KDRT, menghadapi berlapis-lapis hambatan untuk mengakses hukum, seperti:
– Tidak mudah melaporkan kasusnya karena berarti membuka aib keluarga.
– Ragu melaporkan karena bisa jadi ia yang di persalahkan karena tidak becus mengurus suami/keluarga, karena kata orang ‘tidak ada asap kalau tidak ada api’.
– Takut melaporkan karena bisa memperparah kekerasan yang dialami. Suami semakin gelap mata kalau mengetahui istrinya berani melaporkan dirinya, yang berarti mencemarkan status sosialnya sebagai kepala keluarga.
– Khawatir kalau melapor, ia akan dicerai dan menjadi jkorban. Bagaimana ia kelak dan bagaimana anak-anak?
– Berani melapor ke polisi tapi ternyata respon aparat tidak serius karena menganggapnya sebagai masalah privat. Tidak semua kepolisian ada RPK-nya.
– Berani melapor, direspon oleh polwan di RPK, tapi ternyata sulit untuk membuktikan kekerasan yang dialaminya (terbentur KUHAP).
– Berani melapor dan ada bukti kuat, tetapi ancamannya pidana penjara. Berarti suami akan dikurung. Bagaimana nafkah keluarga? Sekolah anak-anak? Siapa yang akan menjamin biayanya? Sebab, selama ini baik sistem sosial dan hukum telah membuat ia (istri) tergantung secara ekonomi terhadap sang kepala rumah tangga. (www.genderkespro.com)
Hal ini juga didukung oleh salah satu artikel Kompas yang menyebutkan bahwa beberapa penyebab korban KDRT juga enggan melaporkan karena : Pertama, rasa malu untuk mengungkapkan masalah keluarganya pada pihak lain. Kedua, korban beranggapan bahwa kekerasan yang dilakukan oleh pasangannya adalah suatu bentuk kasih sayang. Ketiga, korban juga beranggapan hal yang terjadi pada dirinya merupakan kesalahan dirinya sendiri, sehingga kekerasan yang dilakukan oleh pasangan dianggap sudah sepantasnya. Keempat, norma yang dipegang dan berkembang di masyarakat Indonesia menganggap tabu terjadinya perceraian di keluarga. (www.kompas.com)
Maka langkah-langkah yang dapat dilakukan bila menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga seperti dilansir oleh Tempo adalah sebagai berikut :
• Menceritakan kejadian kepada orang lain, seperti teman dekat, kerabat, lembaga-lembaga pelayanan/konsultasi
• Melaporkan ke polisi
• Mencari jalan keluar dengan konsultasi psikologis maupun konsultasi hukum
• Mempersiapkan perlindungan diri, seperti uang, tabungan, surat-surat penting untuk kebutuhan pribadi dan anak
• Pergi ke dokter untuk mengobati luka-luka yang dialami, dan meminta dokter membuat visum. (www.tempointeraktif.com)

BAB III : PEMECAHAN MASALAH

Setelah kita membahas secara mendalam mengenai Kekerasan Dalam Rumah Tangga dari sisi psikologis dan juga aspek-aspek yang menyertainya, penulis pada Bab terakhir ini akan mencoba merumuskan dan mengajukan pemecahan masalah dari kekerasan dalam rumah tangga ini sehingga kita mendapat solusi dari fenomena yang begitu mengkhawatirkan ini.
Dari berbagai sumber yang penulis dapatkan, pendekatan psikologi memiliki bentuk penanganan masalah (treatment). Pendekatan inilah yang oleh penulis dipegang sehingga pemecahan masalah dari kekerasan dalam rumah tangga dapat dibagi menjadi 3 tahap treatment. Tahap-tahap ini adalah sebagai berikut :
1. Tahap Preventif, yakni tahap pencegahan terjadinya Kekerasan dalam Rumah Tangga.
2. Tahap Amelioratif, yakni tahap upaya memperbaiki pelaku dan korban Kekerasan dalam Rumah Tangga.
3. Tahap Suportif, yakni tahap mengembangkan dan meningkatkan kualitas hidup serta kepribadian, baik pelaku maupun korban Kekerasan dalam Rumah Tangga. (Yusuf, 2004; 15-16)
Penjelasan mengenai tahap-tahap pemecahan masalah dari Kekerasan Dalam Rumah Tangga ini dapat dilihat di bawah ini :

A. TAHAP PREVENTIF
Pada tahap preventif ini penulis memberikan saran untuk dilakukan kegiatan-kegiatan dalam rangka mencegah terjadi kekerasan dalam rumah tangga. Kegiatan yang dapat dilakukan dapat dilakukan dalam rangka promosi kesehatan dan pencegahan khusus.
Promosi kesehatan disini dimaksudkan sebagai usaha sosialisasi peningkatan usaha kesehatan mental individu, keluarga dan masyarakat. Peningkatan usaha kesehatan mental ini khususnya ditujukan pada individu berniat untuk menikah atau individu yang telah berkeluarga. Selain itu sosialisasi kesehatan mental juga diarahkan untuk menciptakan komunitas masyarakat yang sehat khususnya secara psikologis.
Sosialisasi kesehatan mental ini memiliki tujuan pembatasan dimana mengajak individu-individu yang ada untuk belajar tentang penyesuaian perkawinan. Individu diberi pengetahuan dan pemahaman serta langkah-langkah untuk membina perkawinan yang sehat dimana perkawinan didasarkan pandangan yang egaliter dan kasih sayang bukan kekerasan. Mereka juga dibekali pengetahuan mengenai tipe-tipe pernikahan yang tidak sehat, pasangan yang abuser, langkah-langkah yang dapat dilakukan bila menghadapi kekerasan (misalnya dengan meminta bantuan psikologis dan hukum) serta individu diberi pemahaman mengenai dampak kekerasan rumah tangga.
Sosialisasi kesehatan mental ini juga dapat bertujuan untuk memberikan keterampilan pada individu, keluarga, dan masyarakat untuk belajar mengelola emosi yang sehat dan belajar mengembangkan kepribadian dan masyarakat yang sehat secara mental tanpa kekerasan.
Bentuk promosi dan sosialisasi kesehatan mental ini dapat dilakukan oleh pemerintah, lembaga swadaya masyarakat (LSM), lembaga Dharma Wanita, PKK, lembaga pendidikan, lembaga kerohanian (misalnya : majlis taklim), dsb. Bentuk sosialisasi ini dapat berupa penyuluhan, pelatihan (training), talkshow, tulisan-tulisan di media cetak, publikasi di media elektronik, penyebarkan jurnal, leaflet, dan bentuk atau media promosi lainnya. Selain itu disarankan kepada pemerintah untuk menggalakkan program pemberdayaan masyarakat. Maksudnya adalah dikembangkan promosi kesehatan mental ini dengan jalur struktur masyarakat yang dimulai dari tingkat pusat hingga RT/RW.
Sedangkan pencegahan khusus yang dimaksudkan adalah upaya diagnosa dini dan pengobatan segera setelah muncul tanda-tanda kekerasan dalam rumah tangga. Sedini mungkin dibuat kesadaran masing-masing anggota keluarga untuk memperhatikan lingkungan sekitar dan segera melaporkan tindak kekerasan agar dapat segera ditangani. Jangan membiarkan kekerasan ada di lingkungan keluarga terdekat.

B. TAHAP AMELIORATIF
Pada tahap amelioratif ini dilakukan kegiatan-kegiatan dalam rangka memperbaiki masalah terjadi kekerasan dalam rumah tangga. Tahap amelioratif ini pula menjadi tahap pencegahan sekunder dimana penanganan kasus kekerasan di harapkan membuat kekerasan tidak dialami kembali oleh korban. Tahap ini juga diharapkan membuat tindak kekerasan dalam rumah tangga tidak akan muncul kembali dan menjadi suatu pembiasan di masyarakat.
Kegiatan yang dapat dilakukan adalah pemberian treatment, khususnya terapi psikologis bagi pelaku dan korban KDRT. Langkah awal yang dapat dilakukan sebelum membahas lebih lanjut mengenai terapi, perlu dipahami dengan jelas bahwa kita harus mencari tahu secara pasti alasan pelaku melakukan kekerasan dalam rumah tangga atau korban mau bertahan dalam rumah tangga yang penuh dengan kekerasan. Setelah kita tahu dengan pasti alasan dan sumber masalah dari keduanya barulah kita bisa menentukan langkah-langkah selanjutnya atau terapi apa yang tepat untuk diberikan.
Beberapa bentuk penanganan terapi langsung yang dapat dilakukan untuk menangani kasus kekerasan dalam tumah tangga adalah sebagai berikut :

 Terapi perilaku bagi Pelaku KDRT
Pada bab sebelumnya telah dijelaskan hal-hal apa saja yang bisa menimbulkan KDRT. Sebagian besar dari penyebab itu adalah ketidakmampuan pelaku mengendalikan amarah dirinya dan disalurkan pada tindak agresi. Oleh sebab itu salah satu terapi yang bisa dilakukan pada pelaku adalah terapi tingkah laku.
Terapi tingkah laku sendiri adalah penerapan aneka ragam teknik dan prosedur yang berakar pada berbagai teori tentang belajar. Terapi ini menyertakan penerapan yang sistematis prinsip-prinsip belajar pada pengubahan tingkah laku ke arah cara-cara yang lebih adaptif. (Corey, 2005 ; 193)
Dalam terapi tingkah laku klien didorong untuk bereksperimen dengan tingkah laku baru dengan maksud memperluas perbendaharaan tingkah laku adaptifnya. Dalam terapi, klien dibantu untuk menggeneralisasi dan mentransfer belajar yang diperoleh ke dalam situasi terapi ke dalam situasi di luar terapi. Dalam hal ini terapi dilakukan bagi pelaku untuk belajar bertingkah laku tanpa kekerasan dan belajar membina hubungan yang harmonis di dalam rumah tangga.

 Terapi Relaksasi Bagi Pelaku dan Korban KDRT
Salah satu terapi yang dapat digunakan adalah terapi relaksasi. Bentuk terapi ini dapat diberikan kepada pelaku dikarena menurut Purwanto, dkk (2006), terapi relaksasi sebagai salah satu terapi mengendalikan amarah, terbukti terapi ini ternyata efektif. Terapi ini dapat dilakukan bagi pelaku yang sering melakukan tindak kekerasan akibat emosi yang tidak terkontrol.
Sedangkan terapi relaksasi dapat diterapkan bagi korban kekerasan dalam rumah tangga dilaksanakan dalam rangka meredakan stress atau kecemasan yang ia alami akibat kekerasan yang menimpa dirinya.
Terapi relaksasi juga merupakan terapi yang biasa dilakukan diawal berbagai terapi psikologi Terapi ini berguna untuk membantu mengurangi trauma atau depresi yang diderita korban. (Corey : 2005)

 Konseling Psikologi
Bentuk penanganan psikologis yang dapat diberikan, baik kepada pelaku maupun korban adalah konseling psikologi. Konseling dilakukan secara individual dengan seorang konselor atau psikolog yang ahli menangani kasus KDRT.
Salah satu tujuan konseling individu adalah korban mampu mengekplorasi lingkup yang lebih luas dari perasaan-perasaannya sehingga dapat memecahkan permasalahan kejiwaan dirinya akibat peristiwa KDRT. Perasaan-perasaan seperti ketakutan, kecemasan, perasaan berdosa, perasaan malu, benci, marah dan perasaan-perasaan negatif lainnya.
Perasaan-perasaan dapat diungkapkan dengan benar sehingga pengerutan dan distorsi korban berkurang. Korban akan menemukan aspek-aspek positif yang ada di dalam dirinya.

 Terapi Keluarga
Hubungan keluarga yang memerlukan penanganan serius adalah penganiayaan anak. Terdapat bukti bahwa hal ini lebih sering dilakukan oleh anggota keluarga pria daripada wanita, umumnya ayah kandung dan ayah tiri.
Treatment juga dapat diberikan pada seluruh keluarga yang memiliki masalah, dalam hal ini KDRT. Keluarga perlu mendapat bantuan ahli, misalnya konselor keluarga, pekerja sosial atau psikolog.
Mereka dapat menggunakan teknik terapi keluarga (family therapy). Mereka berkonsultasi dalam pertemuan seluruh anggota keluarga untuk membantu mereka dalam memecahkan masalah yang dihadapi.
Mereka juga dapat melalui sesi terapi indvidu untuk menggali permasalahan tiap anggota keluarga, sehingga dapat dicari jalan temu seluruh keluarga demi mencapai penyesuaian yang baik dalam keluarga. Anggota keluarga diharapkan dapat mengurangi tingah laku bermasalah, menghilangkan bentuk-bentuk kekerasan apapun, menciptakan suasana yang saling mendukung dan menghargai satu sama lain. (World Book; 1995; F-22).

C. TAHAP SUPORTIF
Pada tahap suportif ini dilakukan kegiatan-kegiatan dalam rangka mengembangkan dan meningkatkan kualitas hidup pelaku dan korban dari terjadinya kekerasan dalam rumah tangga.
Kegiatan suportif yang dapat dilakukan dalam beberapa bentuk. Bentuk tahap suportif dapat berupa pendirian Support Center di tengah masyarakat agar anggota keluarga dapat terbantu. Dalam Support Center ini dilakukan berbagai kegiatan dimana dilaksanakan dalam rangka peningkatan kualitas individu dan masyarakat.
Kegiatan yang dapat dilakukan seperti pelatihan pengembangan diri dan karir, pelatihan keterampilan usaha agar para korban dapat hidup mandiri, ruang konsultasi publik, pengembangan organisasi dukungan bagi korban, kursus pengembangan minat dan bakat, serta bentuk-bentuk kegiatan lainnya yang dapat mengembangkan individu baik secara materi maupun non materi sehingga individu-individu dapat mencapai aktulisasi dirinya.
Selain itu tahap suportif lain dapat dikembangkan dengan prinsip dan langkah yang dapat dilakukan oleh keluarga untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas hidup dimana seluruh pihak harus bersama-sama berusaha untuk menjauhkan diri terlibat dengan KDRT adalah sebagai berikut :

Pertama, landasan keimanan. Antara suami dan istri harus senantiasa mendekatkan diri kepada Tuhan YME. Semakin tinggi keimanan seseorang, maka semakin jauh kemungkinan KDRT terjadi.
Kedua, perubahan cara pandang dan pemahaman mengenai ideologi dan kultur yang menganggap perempuan dibawah laki-laki sehingga melegitimasi perbuatan KDRT sehingga tindak kekerasan yang berbentuk penganiayaan terhadap istri dianggap sudah merupakan hal yang biasa. Perubahan paradigma untuk menghormati dan menghargai peran masing-masing sebagai anggota keluarga. Setiap anggota keluarga diharapkan dapat mengetahui dan melaksanakan sebaik mungkin peran dan tanggung jawab yang ia miliki.
Ketiga, menyadari akan akibat buruk dari KDRT. Ada beberapa akibat buruk diantaranya, pelaku bisa dituntut ke Pengadilan karena penyerangan terhadap korban yang merupakan tindakan melanggar KUHP dimana apabila hal ini terjadi maka rumah tangga menjadi berantakan (Broken Home). Akibat fatal dari hancurnya rumah tangga adalah depresi yang jika terus menerus dialami akan mengakibatkan gangguan mental (kejiwaan).

Keempat, membiasakan diri untuk saling menunjukkan perhatian dan kasih sayang antar anggota keluarga. Orang tua diharapkan memberikan contoh perilaku yang lemah lembut dan penuh cinta kasih kepada anak sehingga tidak terjadi kekerasan dalam rumah tangga dimasa depan.
Kelima, belajar untuk mengontrol dan meregulasi emosi diri secara tepat sehingga tingkah laku yang ditampilkan terarah sesuai dengan tuntutan lingkungan.
Keenam, memotivasi diri untuk berpikiran positif dalam rangka meningkatkan kualitas kehidupan mental diri. Seseorang yang memiliki kualitas mental yang baik tentu saja akan memiliki hubungan yang sehat dengan orang lain tanpa adanya kekerasan. (www.waspada.co.id)

BAB IV : KESIMPULAN

Kekerasan dalam rumah tangga adalah kekerasan yang terjadi dalam lingkungan rumah tangga dimana umumnya, pelaku kekerasan dalam rumah tangga adalah suami, dan korbannya adalah istri dan juga anak-anaknya.
Bentuk-bentuk kekerasan dalam rumah tangga dapat berupa kekerasan fisik (seperti pemukulan), kekerasan non fisik (seperti ungkapan verbal yang merendahkan), kekerasan psikologis (seperti membuat tekanan emosi), kekerasan seksual (seperti pemaksaan hubungan seksual), dan kekerasan ekonomi (seperti tidak memberikan nafkah).
Beberapa penyebab terjadinya kekerasan dalam rumah tangga adalah pertama, penyesuaian perkawinan yang buruk. Kedua, adanya hambatan dari masyarakat, keluarga dan individu sehingga menyebabkan perasaan frustrasi dan marah pada diri pelaku yang menyebabkan ia melakukan tindak agresi pada korban kekerasan dalam rumah tangga. Ketiga, adanya faktor ideologi dan kultural yang melegitimasi kekerasan dalam rumah tangga khususnya yang menimpa pada kaum wanita dan anak-anak.
Dampak yang timbul dari kekerasan dalam rumah tangga dapat berupa tingkah laku modelling anak atas perilaku kekerasan orang tua. Selain itu timbulnya perasaan depresi dan konflik batin pada korban yang dapat mengarah pada gangguan mental. Kekerasan dalam rumah tangga juga dapat mengakibatkan trauma berkepanjangan pada anak. Dampak parah yang mungkin terjadi akibat kekerasan dalam rumah tangga adalah cacat badan pada korban dan dampak terparah yang mungkin terjadi adalah kematian.
Pemerintah dalam mengatasi kekerasan dalam rumah tangga telah berupaya dengan menetapkan undang-undang pemberantasan KDRT dan undang-undang pemulihan korban KDRT. Namun keberadaan peraturan ini dalam pelaksanaannya belum maksimal.

Pemecahan masalah yang dapat dilakukan dalam rangka menyelesaikan masalah kekerasan dalam rumah tangga ini terdiri dari 3 tahap. Tahap-tahap yang disarankan adalah tahap preventif (pencegahan), tahap amelioratif (perbaikan) dan tahap suportif (pengembangan).

DAFTAR PUSTAKA
Allen, Bem. 1990. Personal Adjustment. California: Brooks/Cole Publishing Company.

Atkinson dkk. 2004. Pengantar Psikologi Edisi Kesebelas Jilid II. Jakarta: Inter Aksara.

Corey, Gerald. 2005. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: Refika Aditama.

Feldman, Robert S. 1989. Adjustment, Applying Psychology In A Complex World. Singapore : McGraw-Hill

Hasan, Aliah B.P. 2006. Psikologi Perkembangan Islami. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Hurlock, Elizabeth B. 1980. Psikologi Perkembangan, Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan Edisi Kelima. Jakarta: Erlangga.

Kartono, Kartini. 2003. Patologi Sosial, Gangguan-Gangguan Kejiwaan Jilid III. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Kartono, Kartini. 2003. Patologi Sosial, Jilid I. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Papalia, Diane E. 1998. Human Development 7th Edition. California: McGraw-Hill.

Prakoso, Hendro. 1997. Psikologi Abnormal dan Psikopatologi. Bandung: Fakultas Psikologi UNISBA.

Purwanto, Yadi dkk. 2006. Psikologi Marah, Perspektif Psikologi Islami. Bandung: Refika Aditama.

Schneiders, Alexander A. 1964. Personal Adjustment and Mental Health. New York : Holt, Rinehart and Winston.

Surya, Mohamad. 2003. Psikologi Konseling. Bandung: Bani Quraisy.

Tim Penulis. 1995. The World Book Encyclopedia. New York: World Book International.

Yusuf, Syamsu. 2004. Mental Hygiene, Perkembangan Kesehatan Mental dalam Kajian Psikologi dan Agama. Bandung: Bani Quraisy.

Sumber website :
http://www.genderkespro.com
http://www.kompas.com
http://www.kompascybermedia.com
http://www.kowani.or.id
http://www.tempointeraktif.com
http://www.waspada.co.id
www6.ocn.ne.jp/~heiner/index.html
http://www.lbh-apik.or.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: